Update Kabar Seni

Dari Panggung

Analisis Puisi

Seni

Artikel

Materi Teater

Kabar Seni

Event Seni

Artikel Finalis #20 : MENAK KI MASTANU PENGKHIANAT YANG MENJADI PAHLAWAN


Oleh : Nasin Elkabumaini
(nasinelkabumaini@yahoo.co.id)

PENGANTAR

Banyak tokoh Sunda yang menjadi pahlawan, baik yang mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional maupun pahlwan lokal yang namanya diabadikan. Pada umumnya, perjalanan hidup orang yang menjadi pahlawan itu penuh heroik dengan wataknya yang perwira tanpa cacat cela. Namun, pahlawan yang aku kagumi dari daerahku ini justru seseorang yang menyebabkan terciptanya lagu mainan anak Ayang-ayang Gung, yang isinya tentu menyindir perilaku buruk, seorang yang tadi kelak aku sebut sebagai pahlawan.
Warga Jawa Barat, tentu mengenal lagu kaulinan budak Ayang-ayang Gunung tersebut. Apalagi sejak tahun 1960, lagu ini dimodifikasi menjadi teatrikal dengan judul Kaulinan Urang Lembur oleh Dewan Kesenian Universitas Padjajaran. Tidak heran, apabila sampai saat ini pertunjukkan seni teatrikal tersebut masih dimainkan oleh LISES UNPAD, terutama dalam kegiatan Pementasan Mandiri Lises Unpada.

LAGU ANAK YANG PENUH KRITIK
Lagu mainan anak Ayang Ayang Gung ini merupakan salah satu lagu yang mengandung nilai sejarah dan kritik sosial. Berikut lagunya!

Ayang ayang gung
Gung goongna rame
Menak ki Mastanu
Nu jadi wadana
Naha maneh kitu
Tukang olo-olo
Loba anu giruk
Ruket jeung kompeni
Niat jadi (naek) pangkat
Katon kagorengan
Ngantos Kanjeng Dalem
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Jalan ka Batawi ngemplong
Agar pembaca mudah memahami maknanya, berikut terjemahan bebas dari lagu mainan anak Ayang-ayang Gung tersebut.
Ayang ayang gung
Gung gongnya ramai
Bangsawan ki Mastanu
Yang menjadi wedana
Kenapa kamu begitu
Si penjilat
Banyak yang ikut
Dekat dengan kompeni
Niat jadi (naik) pangkat
Kelihatan kejelekannya
Menanti Pak Bupati
Lempa lempi lempong
Mengadu pipi dengan yang ompong
Jalan ke Batawi ngemplong

Dari terjemahaan lagu di atas, dapat diketahui jatidiri Ki Mastanu. Dia adalah seorang wedana, yang lebih suka menghamba kepada Belanda dengan mengorbankan rakyatnya. Salah satu perbuatan yang tampak di muka masyarakat ialah kegiatan membuka hutan untuk pemukiman dan membangun jalan situ ke Batavia. Lahan pemukiman itu, sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Bogor. Menak Ki Mastanulah yang menjadi pemimpin pertama atau menjadi bupati pertama.
Sikap dan perilaku Ki Mastanu saat membangun pemukiman dan jalan dari Bogor ke Batavia itu yang membuat masyarakat tidak suka. Sebagai orang pribumi, Sunda asli dia lebih mementingkan mendapat pujian dari kompeni, daripada mengasihi rakyat pribumi. Maksudnya sudah jelas, bahwa dia ingin diangkat menjadi Kanjeng Dalem alias Tumenggung alias Bupati.

PENGKHIATAN YANG MENJADI PAHLAWAN

Ki Mastanu mulai menyadari akan harga dirinya yang rendah di mata Belanda, meskipun pangkatnya tinggi. Hal itu terbukti dengan perlakuan Sersan Scopio, yang selalu membentak-bentak dirinya, dan menyuruh dengan seenaknya. Padahal dia itu bintara, dan dirinya perwira. Belum lagi, pihak Belanda itu semena-mena terhadap situs peninggalan Raja Pajajaran di Bogor. Ki Mastanu menolak membuka hutan situas Kerajaan Pakuan Pajajaran di Batutulis, sedangkan pihak Scorpio memaksa melakukannya.
Kebetulan sekali, pada saat dirinya mengabdi kepada VOC, di sekitar wilayah Cianjur dan Sukabumi terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Haji Perwatasari. Haji Perwatasari ini dikenal sebagai Robin Hood dari Jawa Barat, karena perbuatannya yang suka merampok kekayaan kompeni dan menyerang pos-pos Kompeni. Tak ayal lagi, Haji Perwatasari menjadi target utama pasukan VOC untuk dihancurkan.
Ki Mastanu yang justru sudah muak dengan pemerintah Belanda, kemudian menjalin hubungan dengan Haji Perwatasari. Setiap pihak VOC akan menyerang kedudukan pasukan Haji Perwatasari, maka Ki Mastanu mengirim kurir untuk memberitahu rencana Belanda. Sampai beberapa kali serangan, ternyata hasilnya nihil. Pasukan Haji Perwatasari sudah pergi lebih dulu. Bahkan pasukan itu berbalik menyerang di tempat yang sunyi, sehingga banyak tentara VOC yang berhasil ditumpas.
Persahabatan antara Ki Mastanu dengan Haji Perwatasari termaktub dalam lagu mainan budak Ayang-ayang Gung, yakni dalam dua kalimat berikut.
Lempa lempi lempong
Ngadu pipi jeung nu ompong
Kalimat pertama dalam pantun disebut sampiran, yakni lempa lempi lempong. Kata sampiran biasanya tidak bermakna, hanya untuk menyesuaikan ritme. Kemudian kalimat Ngadu pipi jeung nu ompong menjadi isi. Yang dimaksud dalam kalimat itu, persahabatan antara Ki Mastanu dengan Haji Prawatasari diibaratkan seperti mengadu pipi kempot, pipi ompong, yang tidak punya kekuatan. Jadi, persekutuan antara Ki Mastanu dan Haji Perwatasari dianggap tidak ada melahirkan kekuatan untuk melawan Belanda.
Pada akhirnya, pihak VOC mengetahui, bahwa kegagalan VOC memusnahkan pasukan Haji Perwatasari disebabkan oleh perbuatan Ki Mastanu dan para pengikutnya. Tak ayal lagi, wedana Ki Mastanu dianggap pengkhianat bagi Belanda, sehingga dia dan pengikutnya pun ditangkap. Belanda kemudian memutuskan untuk membuang Ki Mastanu ke Afrika Selatan, agar terputus komunikasinya dengan masyarakat Jawa Barat.
Ketika menjadi antek Belanda, Ki Mastanu adalah musuh masyarakat Indonesia, khususnya Sunda, dan ketika dia menjadi pengkhianat Belanda, maka dia adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia, khususnya Sunda. Meskipun tidak disinggung dalam bait lagu kaulinan budak tentang kesadaran Ki Mastanu, tapi dia sudah membuktikaan akan cintanya kepada tanah air, dengan melakukan perbuatan berbahaya yang menyebabkan dirinya ditangkap oleh pasukan Belanda.

KI MASTANU MENJADI IDOLA

Dalam sejarah Nabi Muhammad Saw., dan perkembangan Islam banyak tokoh yang awalnya menjadi musuh, kemudian berubah menjadi pejuang. Nama-nama tokoh seperti Umar bin Khotob, Khalid bin Walid, Amru bin Ash, dan sederet nama lainnya, sebelum masuk Islam, mereka adalah musuh Islam. Umar bin Khotob pernah hendak membunuh Rasulullah Saw., ketika mendengar adiknya sudah masuk Islam, yang justru ketika dia membaca lembaran ayat suci yang dipegang oleh adiknya, dirinya sadar, dan masuk Islam. Khalid bin Walid dalam perang Uhud berhasil mengcaukan pasukan kaum muslimin lewat pasukan berkuda yang mengitari bukit. Amru bin Ash pernah mengejar kaum muslimin yang hijrah ke Hasyah. Namun, mereka kemudian menyadari kesalahannya, masuk Islam, dan menjadi tokoh kebaikan.
Adapun Ki Mastanu, setelah menyadari kekeliruannya dengan membantu pejuang, justru ditangkap dan diasingkan. Sementara itu, namanya yang sudah menjadi buah bibir, menjadi lagu mainan anak, tidak berubah. Dia tetap disebut sebagai si tukang olo-olo, dekat ke kompeni, dan tidak ada yang menggelarinya sebagai pahlawan, dan tidak ada yang memperjuangkan dirinya sebagai pahlawan, padahal dia benar-benar pahlawan, karena pahlwan ialah siapa saja yang menggadaikan hidupnya dengan menentang penjajah, dan mengalami kepahitan hidup akibat pendirian tersebut.

Akhirnya, kita hanya bisa mendoakan, agar Ki Mastanu, yang telah menebus kesalahannya itu mendapat ampunan dari Allah Swt., dan menjadi salah satu dari ribuan pahlawan bangsa, yang memperjuangkan kemerdekaan.

Artikel Finalis #19 : Kisah Perjuangan “Ayam Jantan dari Timur”


Oleh : Andi Anita Ulandari AM
(anitaulandari@gmail.com)

Indonesia terbentuk dari begitu banyak gugusan pulau. Di antara gugusan pulau itu, terdapat sebuah pulau yang cukup besar dan berbentuk mirip huruf K. Pulau inilah yang dikenal sebagai pulau Sulawesi. Pada abad ke-15, di pulau ini terdapat sebuah kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan wilayah timur Indonesia, yaitu Kerajaan Gowa. Dari Kerajaan Gowa inilah lahir seorang pahlawan pemberani yang selalu dibanggakan oleh masyarakat Pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan, dialah “Sultan Hasanuddin”.

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, 12 Januari 1631 dan diberi nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Ia adalah putra dari Sultan Malik Asy-Said, Raja Gowa ke- 15. Lahir dan besar di lingkungan Kerajaan Gowa tidak membuat Sultan Hasanuddin menjadi pribadi yang sombong. Dia memiliki sikap rendah diri, cerdas dan semangat juang yang tinggi sejak masih kanak-kanak. Sepeninggal ayahnya, Ia diangkat menjadi Raja Gowa ke-16 dan mendapat gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja saat ini lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, VOC (Belanda) tengah giat-giatnya berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Upaya ini ditentang oleh kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara, tak terkecuali kerajaan Gowa yang juga menguasai jalur perdagangan di wilayah Timur Indonesia. Belanda menyadari bahwa satu-satunya halangan terbesar untuk menguasai perdagangan di kawasan timur Indonesia adalah Kerajaan Gowa karena kekuatan armada perangnya yang seringkali membuat Belanda kewalahan.

Setelah berbagai perang antara Kerajaan Gowa dan VOC, Belanda mengalami kerugian besar dan memutuskan untuk berdamai dengan Kerajaan Gowa melalui sebuah perjanjian. Namun, perjanjian itu dilanggar oleh Belanda dengan mengirimkan surat bernada ancaman kepada Sultan Hasanuddin. Namun, Raja Gowa ini memang pantang menyerah dan akhirnya perang kembali terjadi. Dengan semangat lebih baik mati daripada menyerah kepada Belanda, pasukan Sultan Hasanuddin bertempur selama dua hari, lebih dari 2000 orang portugis diusir dari Makassar dan armadanya dihancurkan.

Pada tahun 1966, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Belanda berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Pada saat itu juga Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Belanda. Sebelum melakukan penyerangan Belanda mengutus seseorang untuk membawa tuntutan agar Sultan Hasanuddin menyerah saja dan membayar kerugian Belanda dalam perang terdahulu. Sultan Hasanuddin menjawab surat itu dengan berkata "Bila kami diserang, maka kami akan mempertahankan diri dan menyerang kembali dengan segenap kemampuan yang ada. Kami berada dipihak yang benar. Kami ingin mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan negeri kami". Pertempuranpun tak bisa dihindarkan. VOC sempat kewalahan dan meminta bantuan armada perang dari Batavia.

Selepas perang hebat itu, kondisi prajurit perang kedua pihak sangat lemah. Oleh karena itu, Speelman mengusulkan perdamaian melalui sebuah perjanjian yang dikenal “Perjanjian Bungaya”. Namun, perjanjian ini dinilai memberatkan Kerajaan Gowa dan tidak disetujui oleh beberapa petinggi Kerajaan Gowa dengan tekad "Hanya Mayat yang bisa menyerah".Akhirnya perang pecah kembali tanggal 21 April 1668. Peperangan berlangsung sengit dan memakan begitu banyak korban selama berbulan-bulan. Pada tanggal 15 Juni 1669 pasukan Speelman menyerang benteng Somba Opu. Patriot kerajaan Gowa tetap memberikan perlawanan yang gigih atas serangan Belanda dan hujan peluru. Tapi, Setelah perang selama selama 10 hari, maka pada tanggal 24 Juni 1669 seluruh benteng Somba Opu dikuasai Belanda. Sultan Hasanuddin pun kalah pada peperangan ini dan mundur ke benteng Kale Gowa.

Saat itu, Sultan Hasanuddin memang mengalami kekalahan dalam peperangan namun Belanda mengakui bahwa inilah pertempuran yang paling dahsyat dan terbesar serta memakan waktu yang paling lama dari yang pernah dialami dilakukan Belanda untuk menduduki Indonesia. Sehingga, Belanda memberikan julukan De Haantjes van Het Oosten yang artinya “Ayam Jantan Dari Timur” karena semangatnya pantang mundur.

Dari potongan sejarah diatas, kita tahu bahwa Belanda memiliki kapal dan perlengkapan perang yang baik untuk melawan Pasukan Kerajaan Gowa. Sedangkan laskar dan pelaut armada Kerajaan Gowa hanya bermodalkan semangat juang yang tinggi dan tidak takut mati karena budaya siri' na pacce telah berakar dihati sanubari para pejuang Kerajaan Gowa. Meskipun begitu, mereka tetaplah pasukan tangguh yang tak mudah dikalahkan belanda.

Berbagai cara untuk menghormati jasa dengan mengabadikan namanya seperti menjadikannya nama jalan dan sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia Timur yaitu Universitas Hasanuddin yang juga memakai nama dan lambangnya "Ayam Jantan Dari Timur". Melalui keputusan Presiden RI No. 087/TK/tahun 1973 Tanggal 6 November 1973, Sultan Hasanuddin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanannya. Sebuah bukti nyata bahwa nilai sebuah perjuangan tidak akan mati.


Sultan Hasanuddin kini telah wafat, tapi jasanya tidak pernah mati. Bahkan sampai saat ini budaya siri’ na pace masih tetap dianut oleh masyarakat Sulawesi. Beliau adalah cerminan karakter masyarakat Pulau Sulawesi, khususnya Makassar. Kami Makassar, tidak kasar. Meski suara kami keras, bahasa kami agak kasar, tapi kami tegas dan berjiwa besar. EWAKO !

Artikel Finalis #18 : KABARESI


Oleh : Martha Christina
(marthachristinasinurat@gmail.com)

“Apa yang sedang kau lakukan Wil?” Suara gadis yang bening tapi lantang membuyarkanku dari lamunan. Martha melongokkan kepalanya, rambut panjangnya bergoyang lembut dengan ikat merah yang selalu bertengger di singgasana.

“Masakan kau tak lihat? Bukannya selalu ini yang kulakukan sambil menunggu gerakan selanjutnya?” Gerakan menyerang atau gerakan diserang, tambahku dalam hati. Kubersihkan noda darah terakhir pada tombak yang kupegang. Ujungnya sedikit tumpul, perlu diasah.

“Mukamu kenapa muram seperti itu? Seperti kita tidak berhasil memukul mundur orang-orang penjajah saja.” Martha duduk di sebelahku, mengambil satu tombak dari tumpukan tombak yang sudah disempurnakan. Ia bersiul dan mengangguk setuju akan hasil asahanku, “Tombakmu selalu unggul Wil!”

Ya, hari itu pertarungan yang kesekian kalinya antara pasukan rakyat Maluku dengan koloni Belanda. Kali ini pasukan Belanda harus gigit jari, pimpinan mereka tertembak mati. Masih jelas ingatanku akan sore tadi, teriakan kemenangan memecah, bagaikan amukan api yang bergelora. Orang-orang kami tak ada saingannya dalam hal-hal begini. Kulihat Martha berjalan mengelilingi gerombolan orang yang berkumpul, langkah-langkahnya lambat tapi mantap, mengangkat tombaknya sambil berteriak. Suaranya memang tak terdengar sampai ke sini tapi aku selalu tahu apa yang sedang dia katakan, sudah terbiasa. Lagipula kobaran api di matanya sudah cukup berbicara.

Martha memang bukan gadis yang biasa. Ia selalu ikut ayahnya Kapitan Paulus dalam perang, tak peduli ayahnya melarang. Ia ikut dalam perang, dan bukan hanya itu saja, ia juga mengajak kaum wanita yang lain untuk turut turun tangan dalam perlawanan ini. Aku? Aku hanya orang biasa saja. Hanya membantu membawa peralatan saat perang, menyampaikan kata dari si anu kepada si anu. Tak kuat untuk benar-benar ancang sejata.

Mungkin aku kurang nyali. Atau mungkin karena tidak benar-benar mengimani saja. Sungguh, walaupun aku mengerti mengapa pasukan rakyat terus berjuang melawan penjajah, tapi tak urung di kepalaku bertanya, sampai kapan? Sampai titik darah penghabisan? Lalu jika sudah habis, apa? Bukankah hanya jadi sia-sia saja? Memang kali ini kita di atas angin, tapi kemarin saja penjajah sudah mengambil alih kembali Benteng Beverwijk, benteng yang gara-gara merebutnya Oom Agil jadi pincang. Rasanya ini bukan lagi perkara kalah menang, tapi perkara sebanyak apa kau bisa melukai lawan. Sekarangpun sudah jumlah orang yang bisa bertarung sudah sangat sedikit dibanding ketika awal berperang, persediaan sudah sangat menipis jika tak mau dibilang hampir habis.

“Mengapa kau di sini? Tumben tak ikut rapat seperti biasanya?”
“Tak apalah. Bagaimanapun aku toh pasti ikut dalam serangan besok. Orang-orang tua juga lebih tahu soal perencanaan begini”, jawabnya sambal menyenderkan badan ke tembok. “Tadi aku pergi melihat orang kita yang terluka.”
Martha si wanita kabaresi. Selalu tidak ada keragu-raguan dalam setiap langkah yang dia ambil. Tidak ada yang samar-samar, abu-abu, yang ada hanya merah. Dia selalu tahu apa yang dia mau, dan bagaimanapun caranya dia akan memastikan itu terjadi.

“Seandainya aku tidak dilahirkan di tanah kita ini tapi di tanah penjajah kita sekarang, bagaimana menurutmu? Tidakkah aku akan melakukan hal yang sama seperti mereka lakukan sekarang?” tanyaku sambil sedikit menerawang.
Hening sebentar. “Entahlah. Tapi aku yakin kau tidak akan menghabisi waktumu untuk merebut harta yang bukan milikmu.“ Kualihkan pandanganku kepadanya. “Dan kau tidak akan sependek ini” tambahnya sambil menyeringai puas.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu kami habiskan dengan kisah-kisah lama. Martha yang banyak bercerita, aku kebanyakan mendengarkan. Kisah-kisah itu seperti memberi harapan pada kami bahwa akan ada kesempatan untuk membuat kisah-kisah lain. Kisah-kisah lain yang bisa digunakan untuk menghabiskan waktu mengenang sambil tersenyum. Esoknya baru kusadari, malam itu adalah malam terakhir kami bisa seperti itu.

Desa Ouw luluh lantak. Kebanyakan pejuang tertangkap dan satu-persatu diinterogasi oleh opsir Belanda bernama Buyskes, termasuk Martha dan aku. Kami dibebaskan karena dianggap masih sangat muda. Saat-saat itu aku bagaikan nanar, tak benar-benar tahu apa yang dibicarakan. Kulihat Martha berlutut, memohon agar ayahnya dibebaskan dari hukuman. Tubuhnya penuh luka-luka kecil dan kotor. Di saat seperti itu pun Martha tidak menjadi hitam atau abu-abu, ia tetap merah. Walaupun kali ini api di matanya tak secemerlang biasanya.
Dan Oom, Oom Paul tetap dijatuhi hukuman mati.

Setelah kejadian tersebut Martha tetap tak jera berjuang, atau lebih tepatnya bahkan lebih membabi-buta. Aku tahu bukan karena ikut dalam perlawanan, hanya melihat dari jauh sambil mendengar cerita-cerita sore ngongare yang beredar. Ia terus bergerilya dan melakukan perlawanan tanpa memedulikan tubuhnya yang semakin lemah. Sampai suatu saat akhirnya aku jengah juga melihatnya.
“Mengapa kau seperti ini Martha? Apa kau pikir Oom senang melihat kau seperti ini? Perjuangan Oom akan sia-sia jika kau tak menghargai hidupmu seperti ini!” kataku frustasi. Martha yang tadinya duduk terpekur menatapku lamat-lamat. Lalu ia kembali menatap hutan di depan kami.
“Apa arti hidup bagimu Wil? Bagiku hidup itu bukan menyambung nafas, tapi soal mengambil bagian. Tak ada gunanya aku hidup jika aku tidak bisa melakukan itu. Aku punya bagianku, kau punya bagianmu.”
Itulah percakapan kami yang terakhir kalinya.

Martha akhirnya tertangkap juga. Pasukan Belanda menghukumnya ke pengasingan, menjadi budak di perkebunan kopi. Ia dibawa ke Pulau Jawa naik Kapal Perang Eversten. Beberapa minggu kemudian kudengar kabar, ia masih saja melawan walaupun sudah tertangkap dalam kapal. TIdak makan, tidak bicara, bahkan tidak mau menerima obat yang bisa mengurangi sakitnya. Ia telah pergi meninggalkan hayat. Melawan sampai titik darah penghabisan.
Bagiku Martha bukan hanya seorang perempuan yang berani melawan kodratnya di tengah dominannya laki-laki. Bagiku Martha adalah seorang muda yang berani melawan keterbatasannya, berani berusaha menjawab masalah yang dilihatnya, dan berani turut mengambil bagiannya. Sungguh, mungkin tidak akan ada kesempatanku untuk melakukan perjuangan seperti yang dilakukan Martha, mungkin tidak akan pernah aku merasakan keyakinan yang pantang goyah seperti Martha. Tapi sungguh, kupastikan bara api itu tidak berhenti sampai di sini. Kupastikan banyak orang akan tahu akan perjuangan dan keberanian Martha temanku. Bukan hanya berani soal menumpahkan darah, tetapi juga berani keluar dari rasa enggan melakukan perubahan.

Aku memang bukan orang berpendidikan, tulisanku tidak akan berupa kata-kata indah dan pintar. Namaku mungkin tidak akan pernah disebut-sebut nantinya. Tidak apa. Yang pasti, aku melakukan bagianku.

________

Terinspirasi dari perjuangan Martha Christina Tiahahu

Teater Petass on Android

Translate This Site In Your Own Language

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
 
Copyright © 2013 Teater Petass Corp
Follow Us Situs Teater Petass Corp. Powered byGoogle